any coward’s easiest way out - a deleted scene from Antologi Rasa
“Oh, crap.”
“Yeah, oh crap indeed!” seruku.
Dinda menatapku bengong. “Sumpah, gue nggak nyangka loh, Key. I didn’t see this coming.”
“Lo kirain gue nyangka?” seruku. “Sebenarnya sih gue udah mulai nggak suka ya, Din, pas si Panji itu main ngomong ‘titip jagain’ gue ke lo, waktu kita ke Philipines itu. Tapi waktu itu gue mikirnya ya sudahlah, mungkin dia cuma mau nunjukin ke lo kalau dia nggak cuma main-mainin gue doang, image building-nya dia ke elo lah, Din, secara elo itu sahabat gue.”
“Buset, image building, ngomongnya udah kayak campaign manager aja lo.”
“Ya lo ngerti kan maksud gue. Tapi this ‘I think I love you’ shit? Yang bener aja!”
Sudah tiga hari sejak malam Emilie aku dan Panji, dan baru hari ini aku berhasil menculik si Dinda yang super sibuk – akhirnya dia nggak cuma makan gaji buta di kantor - untuk cerita langsung tentang adik iparnya itu. Satu jam lunch di Luna Negra di gedung kantor Dinda siang ini lebih banyak diisi dengan seruan aku dan dia bersahut-sahutan daripada menghabiskan udang telur asin dan angus beef di depan kami.
“Terus lo jawab apa, nyet?” Dinda menatapku.
Gimana coba menjawab laki-laki yang tadinya hanya buat main-main saja tiba-tiba ngomong ‘I think I love you’? Aku hanya ingat bahwa di tengah rasa kaget dan masih sedikit tipsy, aku menelan ludah sekali, berpikir cepat, dan akhirnya berkata sok tenang dengan suara selembut mungkin, “Now, babe, that’s the alcohol talking.” Merayu-rayu dia sedikit mengalihkan dari lima kata bangsat itu, termasuk one or two dirty talks, sebelum akhirnya waktunya pas untuk aku ngomong, “Babe, aku udah ngantuk banget nih. Kamu juga harus istirahat tuh.”
Tepuk tangan buat Panji Wardhana yang telah sukses membuat aku terjaga sampai jam tiga pagi hanya untuk memikirkan bagaimana menghapus ucapannya itu dari sejarah percakapan kami. Setelah dua ribu tiga ratus tujuh puluh sembilan domba yang meloncati pagar di dalam kepalaku.
Why the fuck did you have to ruin this, man?
Dinda terdiam sesaat setelah mendengarkan penjelasanku tentang bagaimana aku mengakhiri percakapan malam itu menggunakan satu-satunya cara yang aku tahu: dengan mengabaikan apa yang sebenarnya sedang Panji ucapkan. Any coward’s easiest way out.
“Lo udah ngobrol atau ketemu lagi dengan Panji setelah itu?”
Aku menggeleng.
“Udah tahu mau ngomong apa seandainya nanti dia ngomong itu lagi ke lo?”
Bahkan akan lebih mudah bagiku untuk mencari jawaban apa sebenarnya makna tulisan Salman Rushdie di The Satanic Verses daripada bagaimana menjawab Panji kalau dia menyatakan lima – atau lebih buruk lagi – tiga kata itu.
Aku menghabiskan sisa-sisa air di gelasku yang berisi Equil mencoba mendinginkan tenggorokanku yang terasa kering. How do you say parched in Indonesian? Aku kira ini dulu klise yang hanya aku baca di buku atau lihat di film, tapi ternyata benar bahwa tenggorokan manusia cenderung untuk terasa tercekat di saat sedang galau memikirkan sesuatu, seperti aku sekarang.
“I’ll think of something,” kataku mencoba membungkam Dinda dari mengorek lebih jauh lagi, like I know she usually will. Tapi entah kenapa siang ini Dinda cuma menatap mataku tiga detik, tidak berkata apa-apa, kemudian mengangkat bahunya dan memanggil pelayan untuk memesan dessert.
Aku kira tadinya aku akan merasa lega bahwa sahabatku ini tidak memperpanjang pembahasan ini. Tapi yang ada malah tenggorokanku kembali tercekat karena Dinda diam saja. Ternyata yang aku butuhkan adalah dia menasihatiku panjang lebar seperti yang biasanya dia lakukan.
Dinda menyadari aku sedang menatapnya menunggu dia mengucapkan sesuatu. “Kenapa?” ujarnya.
“Elo nggak mau ngomong sesuatu tentang ini? Merepeti gue? Ngasih gue analogi-analogi aneh seperti kebahagiaan buat anjing atau semacamnya?”
Dia malah tertawa.
“Kok ketawa?”
“I’m done, Key,” katanya tersenyum.
“Maksud lo?”
“Maksud gue,” dia menyodorkan sisa isi botol Equil-nya untuk mengisi gelasku, “semua nasihat yang ada di kepala gue ini sudah habis. Semuanya sudah gue omongin ke lo. Kapasitas kepala gue juga nggak besar-besar banget kan?”
Dan dua detik kemudian, Dinda akhirnya mengatakan yang paling aku takutkan.
“Udah saatnya untuk lo berhenti cari alibi dari nasihat-nasihat gue, Key. Udah saatnya buat lo mengambil keputusan berdasarkan kebenaran yang ada di dalam kepala lo. Lo udah tahu itu sejak lama sebenarnya tapi lo belum berani aja untuk mengikutin kata hati yang itu.”
7 notes
-
yuliono liked this
-
vanessaanggraini liked this
-
littlerabbitrideahorse reblogged this from ikanatassa
-
kepikbadut liked this
-
princessirait reblogged this from ikanatassa
-
nuuunaaaa reblogged this from ikanatassa
-
awesomefever reblogged this from ikanatassa
-
ikanatassa posted this